BERITA

Ada 5 Hoax yang Menyerang Presiden Jokowi Beserta Cara Meng-Counter-nya

Sepanjang Republik ini berdiri, tidak ada pemimpin yang bertubi-tubi diserang hoax dan fitnah seperti Presiden Jokowi. Selama 3 tahun lebih kepemimpinannya, hoax datang silih berganti. Namun jika diamati, hoax yang dialamatkan kepada Presiden sesungguhnya itu-itu juga.

Para pelaku atau penyebar hoax sesungguhnya sedang menjalankan propaganda hitam. Propaganda yang semula memiliki makna mulia, belakangan bermakna peyoratif. Sebabnya, Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif namun memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau yang melihatnya.

Berdasarkan sumbernya, propaganda ada beberapa jenis. Dalam tulisan ini kita tajamkan kepada definisi propaganda hitam atau “black propaganda” Black propaganda atau propaganda hitam adalah propaganda yang dilakukan secara licik sebagai senjata taktis untuk menipu, penuh kepalsuan, tidak jujur, tidak mengenal etika dan cenderung berpikir sepihak. Propaganda ini tidak memberikan sumber sebenarnya, bahkan sering menuduh sumber lain yang melakukan hal tersebut. Propaganda ini juga disebut dengan propaganda terselumbung.

Apabila ingat propaganda, maka ingatkan kita melayang pada zaman atau era Nazi, Hitler dan Menteri Propagandanya yang terkenal, Joseph Goebbels. Menurutnya :

 

“Inti propaganda terdiri dari orang-orang yang menang atas sebuah ide dengan begitu sangat tulus, sehingga akhirnya mereka menyerah sama sekali dan tidak akan pernah bisa melepaskan diri darinya.”

Suksesnya propaganda Nazi ternyata dicontek di mana-mana termasuk di tanah air hingga belakangan. Lawan-lawan politik atau pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintahan sekarang sedang gencar menyerang pemerintah dengan beragam isu.

Sayangnya isu yang disebarkan cenderung hoax dan tidak bermutu. Benarlah seperti yang disampaikan Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni beberapa waktu lalu. Pihak oposisi atau lawan Jokowi tidak menampilkan oposisi yang berkualitas dan hanya menyasar isu-isu remeh temeh dan cenderung hoax. Berikut 5 isu atau hoax yang diulang-ulang untuk memojokkan Pemerintahan Jokowi.

 

 

  1. Isu komunisme atau kebangkitan PKI

Isu Partai Komunis Indonesia (PKI) atau kebangkitan komunis sesungguhnya isu lama yang senantiasa digoreng. Semenjak Jokowi diusung PDIP pada Pilpres 2014 lalu, isu ini mulai mengemuka. Anehnya, isu ini tidak muncul ketika Jokowi mencalonkan diri jadi Gubernur Jakarta berpasangan dengan Ahok pada 2012 lalu.

Dus, isu PKI memang dicuatkan untuk mendiskreditkan Jokowi, serta partai pengusungnya, yakni PDIP. Untuk menguatkan isu PKI maka bermunculan lambang PKI di mana-mana, mulai dari bendera, sticker hingga poster-poster yang memang terlihat dibuat secara sengaja. Bahkan, uang rupiah keluaran terbaru pun dipersoalkan karena –katanya- ada logo seperti Palu Arit di dalamnya.

PKI memang menggoreskan sejarah buruk di tanah air. Namun, semenjak kewafatan partai ini setengah abad lalu, hantu PKI dan komunisme dibuat untuk menakut-nakuti rakyat. PKI senantiasa digambarkan dengan gambaran yang kejam dan sepenuhnya buruk. Mulai dari anti agama, anti Tuhan dan tidak berperikemanusiaan.

Penulis teringat sebuah kisah nyata dalam buku “Awaken The Giant Within” Karya motivator Anthony Robbins. Robbins sekilas membahas mengenai dahsyatnya pengaruh propaganda.

Diceritakan ketika Pilpres Amerika, George Bush melawan Michael Dukakis. George Bush menyewa Roger Ailes sebagai seorang pakar analisis politik sekaligus pembentuk opini. Ailes merancang strategi untuk menyampaikan tiga pesan yang sangat negatif tentang Dukakis –bahwa ia payah untuk pertahanan, lingkungan, dan kejahatan. Dan Ailes membuat iklan tentang itu.

Banyak orang kemudian memersoalkan fokus negatif dari iklan-iklan tersebut. Banyak orang tidak suka dengan kontennya, namun tingkat suksesnya sulit didebat. Kenyataannya –seperti diungkap Robbins- bahwa kepedihan itu adalah motivator yang sangat ampuh dalam membentuk perilaku orang. Seperti kata Ailes, “Iklan-iklan negatif itu lebih cepat pengaruhnya “ (hlm. 79).

Nah, jika kita tarik benang merahnya dengan isu-isu komunisme atau PKI yang timbul tenggelam akhir-akhir ini mudah ditebak ke mana arahnya. Masyarakat dibuat “trauma” dengan PKI, dan para pembuat isu kemudian membangkitkan trauma masyarakat tersebut dan mengaitkannya dengan pemerintahan Jokowi sekarang.

 

 

  1. Jokowi Anti ISLAM

Isu Jokowi anti Islam sesungguhnya terkait dengan isu PKI. Karena PKI anti Tuhan dan anti agama, maka otomatis PKI adalah lawan dari agama, terutama Islam. Begitulah image atau labelling yang hendak dibentuk.

 

Mulailah dikarang-karang isu “kriminalisasi ulama” serta pemberangusan ormas-ormas Islam semacam Hizbut Tahrir melalui kemunculan Perpu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Terakhir, adalah isu penyerangan ulama yang terjadi di mana-mana. Isu penyerangan ulama bulan-bulan terakhir sangat santer. Untung saja aparat kepolisian kita tidak tinggal diam. Isu tersebut mati sendiri dengan terungkapnya jaringan Muslim Cyber Army atau MCA yang ternyata adalah pembuat isu hoax tersebut.

 

 

  1. Utang Kian Membengkak

Utang Indonesia membengkak gara-gara Jokowi. Demikianlah isu yang dibuat. Gencarnya pembangungan infrastruktur akhir-akhir ini membuat pihak lawan pemerintah gerah dan panik.

Maka untuk meng-counter prestasi pemerintah dibuatlah isu bahwa gencarnya pembangunan akhir-akhir ini tidak bisa dilepaskan dari utang yang kian membengkak. Disebutkan bahwa utang sudah mencapai 4000 trilyun, dan hal tersebut membuat kondisi negara sudah “lampu merah.”

Untungnya, Menteri Keungan kita, Sri Mulyani dalam berbagai kesempatan sigap mengurai hoax-hoax seputar utang ini. Saya cantumkan sumbernya, di mana Menteri kita satu ini menjelaskan dengan jelas dan terang benderang kesimpang-siuran mengenai permasalahan utang yang disinyalir kian membengkak. (https://www.youtube.com/watch?v=Dta7phOdKPk).

Sesuai Undang Undang Keuangan Negara, batas rasio utang pemerintah tidak boleh melebihi 60% dari PDB nasional. Saat ini utang pemerintah terhadap PDB (Product Domestic Bruto) masih kurang dari 30% Jadi utang negara kita relatif masih aman, bahkan apabila dibandingkan dengan negara-negara yg tergabung dalam G.20, utang pemerintah jauh relatif masih kecil.

Bertolak dari data-data tersebut, meningkatnya jumlah utang negara yang dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur, sudah sesuai dengan perundang-undangan. Dan berhembusnya isu utang negara hanyalah bentuk kegelisahan lawan politik Jokowi.

 

 

  1. Jokowi Otoriter

Tuduhan atau hoax ini dilatarbelakangi ketegasan pemerintah untuk menangkap para penyebar hoax di negeri ini. Apa yang dilakukan Jokowi dan aparat kepolisian sudah tepat. Kelompok semacam Obor Rakyat, Saracen dan terakhir MCA (Muslim Cyber Army) adalah kelompok penyebar hoax. Sungguh salah atau keliru jika pemerintah mendiamkan kelompok yang dapat membuat masyarakat kita terpecah belah karena konflik SARA.

Tujuan mereka sudah jelas. Seperti yang diungkap kepada kepolisian. Aktor-aktor MCA mengakui bahwa mereka ingin membuat anak-anak bangsa terpecah. Jadi, apakah lantaran ketegasan pemerintah melawan hoax, maka Jokowi dituduh otoriter ?

 

 

  1. Pemerintahan Jokowi minim prestasi

 Nah, ini sesungguhnya hoax yang mudah ditangkis. Mengapa mudah ? Karena kita dengan mudah dan gampang bisa menunjukkan hasil kerja Presiden beserta jajaran menteri selama 3 tahun lebih masa kepemimpinannya. Pembangunan infrastruktur tidak Jawa sentris. Pulau-pulau yang selama ini tersisihkan, dirangkul kembali oleh Presiden. Perbatasan-perbatasan yang semula diabaikan kini dibangun dengan indah. Harga BBM di Papua serta Kalimantan yang sudah berpuluh-puluh tahun harganya “jomplang” dengan di Pulau Jawa diseragamkan.

 

Referensi :

 

http://www.pelajaran.co.id/2017/04/pengertian-menurut-ahli-macam-jenis-bentuk-dan-contoh-propaganda.html

 

https://www.youtube.com/watch?v=Dta7phOdKPk

 

https://finance.detik.com/infografis/d-3551862/20-proyek-strategis-jokowi-rp-33-triliun-rampung

Sumber:

https://seword.com/politik/ada-5-hoax-yang-menyerang-presiden-jokowi-beserta-cara-mengcounternya-rkUodW_KG

Comment here